Qraved
Open in the Qraved app
OPEN
No. 1 Food App for Indonesia
Follow us
Log in to Qraved to connect with people who love food.

Follow Us

For fresh content everyday

Dining out? You can ask us for recommendations!

Click to chat+6221 292 23070Operational Hours: 11AM-2PM
Download The App

Peran Tionghoa dalam Episode Sunyi Kuliner Indonesia

Sigit PrasetyoSigit Prasetyo
Peran Tionghoa dalam Episode Sunyi Kuliner Indonesia1
www.xiangman.nl
Keragaman etnis di negeri ini tidak hanya dari pribumi semata. Bangsa lain seperti Tionghoa pun sebenarnya memiliki peran penting dan menjadi warna dari kehidupan masyarakat Indonesia. 
Memang agak sulit untuk menakar peran etnis Tionghoa bagi republik ini. Sedari dulu, keberadaan mereka dianggap tak ada. Dianggap sebagai etnis “liyan” atau diartikan etnis lain: bukan pribumi ataupun Eropa. Meskipun sebenarnya, sejarah mencatat, etnis Tionghoa sudah berada di Indonesia –atau katakanlah Nusantara—sejak abad ke-5 Masehi.
Dan meski berada di balik layar, mereka justru melahirkan kebudayaan dan akulturasi baru dan kemudian menjadikan Indonesia sebagai tanah air mereka, bukan lagi sebagai tanah perantauan. Dan dari situlah, episode-episode sunyi itu mereka mainkan.
2
Photo Source:  www.xiangman.nl
Dalam hal kuliner, misalnya. Di Semarang, kedatangan masyarakat Negeri Tirai Bambu ini ke kota pelabuhan sejak zaman dulu ini memberi pengaruh pada kemunculan menu lumpia dengan saus cocolannya yang khas. Makanan yang digulung dengan adonan khusus kemudian diisi sayuaran itupun mendapat tempat di lidah pribumi dan juga orang-orang Eropa. 
3
Photo Source:  areamagz.com
Mie Djawa adalah contoh lain irisan seni kuliner antara pribumi dan juga etnis Tionghoa.  Orang Jawa jelas tak mengenal mie. Etnis Tionghoa-lah yang mengenalkan panganan panjang dan kenyal tersebut pada orang Jawa.
Di daerah Yogyakarta dan Jawa Tengah, lewat sebuah refleksi panjang, orang Tionghoa berhasil mengakulturasikan makanan khas mereka dengan beberapa bumbu-bumbu tradisional. Penambahan bumbu-bumbu tradisional itulah yang kemudian membuat makanan tersebut sangat mudah diterima oleh orang Jawa. 
4
Photo Source:  Jitunews
Kemudian makanan tersebut dikenal dengan sebutan Mie Djawa. Bukan Mie Tionghoa.
Pun begitu dengan yang terjadi di Jawa Barat. Gesekan antara orang Sunda dengan etnis Tionghoa kemudian melahirkan Siomay dengan bumbu kacangnya. Di Tanah Karo, sio bak mengalami akulturasi dan kemudian berubah menjadi Babi Panggang Karo.  
Atau kalau mau lebih luas lagi, bakso, misalnya. Makanan yang disebut-sebut sebagai makan asli Indonesia itu sebenarnya juga merupakan hasil kebudayaan masyarakat Tionghoa.  
Dari sini kita sadar, sejak kedatangan etnis Tionghoa pada abad ke-5 Masehi, mereka mencoba bertahan hidup, berdiplomasi dan beradaptasi dengan masyarakat pribumi agar mereka dapat diterima oleh orang-orang pribumi. 
Sekali lagi perlu disadari, kekayaan budaya dan kuliner bangsa ini lebih berwarna karena kehadiran etnis Tionghoa. Dan rasanya, terlalu naif jika kita masih masih memperdebatkan soal perbedaan, karena nyatanya perpaduan tradisi itu bisa melahirkan sesuatu yang lebih berharga: warisan kuliner yang tentu sangat memanjakan penikmat makanan.