Qraved
Open in the Qraved app
OPEN
No. 1 Food App for Indonesia
Follow us
Log in to Qraved to connect with people who love food.

Follow Us

For fresh content everyday

Dining out? You can ask us for recommendations!

Click to chat+6221 292 23070Operational Hours: 11AM-2PM
Download The App

Nostalgia Legitnya Lenjongan Khas Jawa

Iqra RabikaIqra Rabika
Nostalgia Legitnya Lenjongan Khas Jawa  - Photo 1
Qraved
Lenjongan adalah jajanan tradisional khas Solo yang masih digemari hingga kini. Bentuknya yang menarik dan paduan warna yang unik membuat jajanan ini masih eksis di berbagai kalangan, mulai anak-anak hingga dewasa, baik dalam negeri maupun pelancong luar negeri. Kuliner street food (makanan jalanan) ini menjadi jajanan yang mudah dijumpai kapan saja, terutama ketika perayaan hari-hari besar.
2
Photo Source:  Rofi' Setia Bekti
Kuliner tradisinal ini terbuat dari ketela singkong dan ketan yang diolah dengan berbagai cara sehingga menghasilkan berbagai produk yang berbeda. Isian lenjongan biasanya berupa kicak, cenil, ireng-ireng, ketan hitam, ketan putih, sawut, klepon, dan gethuk. Semua jenis jajanan ini nantinya dipadukan menjadi satu dan dibungkus dalam suatu wadah. Biasanya wadah yang digunakan berupa daun pisang maupun daun jati yang dibentuk pincuk. Untuk menambah cita rasa, lenjongan disiram juruh (gula merah cair) dan ditaburi parutan kelapa.

1. Kicak

3
Photo Source:  Rofi' Setia Bekti
Kicak biasanya berbentuk kotak-kotak dan bertekstur kenyal. Jajanan ini mirip gethuk hanya saja rasanya gurih dan lebih kenyal. Dalam pembuatannya, bahan utamanya berasal dari singkong yang direbus kemudian ditumbuk halus dan dipotong kotak-kotak.

2. Cenil

4
Photo Source:  Rofi' Setia Bekti
Olahan ini berbentuk panjang dengan ujung runcing dan berwarna warni. Cenil merupakan olahan dari tepung tapioka yang dicampur dengan tepung terigu kemudian direbus. Agar lebih menarik, adonan ini diberi pasta pandan atau pewarna makanan serta garam dan gula sebagai penambah cita rasa. Proses pembuatannya tergolong susah. Jika belum mahir, bisa saja produk yang dihasilkan akan keras dan alot. Di antara jajanan lenjongan yang lain, olahan ini memiliki tekstur paling kenyal dan licin, sehingga dengan sekali lahap, jajanan ini akan membuat sensasi menyenangkan di lidah.

3. Ireng-Ireng

Seperti namanya, ireng-ireng berwarna ireng (dalam bahasa Jawa) atau hitam dalam bahasa Indonesia. Warna ireng ini didapatkan dari bubuk merang yang ditambahakan ke dalam jajanan ini. Makanan ini memiliki tekstur empuk dengan sedikit kenyal. Bahan dasarnya terbuat dari tepung kanji, tepung terigu, gula, dan air. Olahan satu ini memiliki rasa yang lebih manis dari varian lenjongan lainnya.

4. Klepon

5
Photo Source:  Rofi' Setia Bekti
Saat ini, klepon merupakan jajanan yang lumrah ditemukan. Apalagi, banyak masyarakat modern yang memodifikasi klepon dengan berbagai cara, mulai dari es krim, kue tart, mochi, dan olahan modern lainnya. Namun, dalam lenjongan, olahan klepon yang digunakan masih tradisional. Klepon terbuat dari tepung ketan, tepung sagu, dan air kapur sirih. Adonan ini nantinya akan diuleni dengan santan hangat membentuk bola-bola kecil dan diberi isian gula merah kemudian dikukus. Setelah itu, bola-bola klepon akan digulingkan ke dalam parutan kelapa yang sudah dikukus. Olahan ini memberikan sensasi menyenangkan dalam sekali gigit karena gula yang ada di dalamnya akan meleleh dalam mulut. Tak heran, makanan ini digemari banyak kalangan.

5. Ketan Putih

Ketan putih merupakan olahan yang terbuat dari ketan putih yang dikukus dengan campuran santan dan garam. Olahan ini memiliki rasa gurih. Biasanya, jika tidak disajikan dengan lenjongan, penyajian jajanan ini menggunakan parutan kelapa dan bubuk kedelai di atasnya.

6. Ketan Hitam

6
Photo Source:  Rofi' Setia Bekti
Hampir sama dengan ketan putih, varian ini juga terbuat dari beras ketan. Bedanya, jenis yang digunakan adalah jenis ketan hitam. Jajanan ketan hitam ini, biasanya dicampur dengan ketan putih. Hal ini dilakukan agar tekstur yang didapatkan lebih empuk karena jika hanya menggunakan ketan hitam, teksturnya akan keras. Jajanan ini berwarna hitam dan biasanya berbentuk bola-bola kecil.

7. Sawut

Sawut terbuat dari singkong yang diparut growol (parutan besar) menyerupai mi tetapi lebih pendek. Setelah diparut, sawut akan dikukus bersama gula merah. Terakhir, olahan ini ditaburi parutan kelapa. Zaman dahulu, orang Jawa sering menggunakan olahan ini sebagai pengganti nasi karena singkong lebih mudah ditemukan serta pengolahannya pun cukup mudah.

8. Gethuk

7
Photo Source:  Rofi' Setia Bekti
Gethuk yang terdapat dalam lenjongan merupakan gethuk singkong. Sebelum menjadi gethuk, singkong harus direbus terlebih dahulu hingga empuk. Kemudian, singkong rebus yang sudah matang ditumbuk sampai halus dan diuleni dengan gula merah maupun gula putih (sesuai selera). Gethuk memiliki tekstur yang empuk dan lembut.
Saat ini, lenjongan tak hanya bisa dijumpai di Solo, tapi juga di berbagai sudut wilayah Jawa dan beberapa daerah lain. Namun, penjual jajanan khas ini mayoritas adalah golongan tua yang berjualan dengan kaki lima atau keliling membawa keranjang. Lenjongan menjadi ciri khas ketika digelar tontonan tradisional, seperti wayang dan jaranan. Biasanya, para penjual lenjongan menjajakan jajanan mereka di pinggir jalanan sekitar pagelaran tersebut.
Meski tak sebanyak dulu, tapi masih ada penjual jajanan ini. Walaupun mayoritas penjual tergolong tua, tapi eksistensi makanan ini tetap terjaga. Pecinta jajanan tradisional pasti tidak asing dengan jajanan ini. Mereka akan memburu kuliner yang mulai punah dari peradaban ini. Selain di pinggir jalan dan acara-acara tradisional, makanan ini juga dapat dijumpai di pasar-pasar tradisional. Meskipun demikian, kaum muda hendaknya mau meng-expose kembali jajanan unik ini agar masyarakat lebih mengenal dan mencintai warisan budaya lokal. Apalagi, perkembangan zaman saat ini mendorong manusia untuk terus bersaing dalam membuat inovasi. Lenjongan bisa menjadi solusi bagi inovator untuk berkarya dengan membuka peluang bisnis sembari tetap menjaga kearifan kuliner khas nusantara.
Penulis: Rofi' Setia Bekti